Dirilis

28 Maret 2018

Pembangunan infrastuktur oleh pemerintah akan berpengaruh, selain karena berubahnya pola konsumsi masyarakat Indonesia.

Jahja B. Soenarjo, DIREXION Strategy Consulting tak mau pusing memprediksi situasi perekonomian tahun 2018. Menurutnya sebagian orang bilang tidak lebih baik, sebagian lagi menyatakan sebaliknya. Namun dia optimistis dengan langkah-langkah yang dilakukan pemerintah saat ini.

“Tentunya ini tak lepas dari upaya-upaya stabilisasi oleh pemerintah yang senantiasa melakukan langkah-langkah kontruktif sekalipun menghadapi kendala yang tidak sedikit. Pembangunan infrastruktur secara masif dan konsisten di berbagai daerah pasti akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah tersebut di masa mendatang,” ujarnya.

Di saat bersamaan, beliau menambahkan, tingkat suku bunga yang menurun juga di satu sisi memberi kelonggaran nafas untuk berusaha. “Tapi di sisi lain juga membuat masyarakat lebih ‘membelanjakan uang’ daripada menabung, karena suku bunga yang sangat rendah.”

Akan tetapi dengan tegas Jahja mengatakan daya beli tetap akan membaik bukan melemah. Tahun 2017 daya beli juga tidak sepenuhnya melorot, tetapi perilaku pembeli yang berubah dan bergeser, sebagian menunda pembelian dan sebagian lagi mengalihkan pembelanjaan ke sektor lain.

Pergeseran Pola Konsumsi
Yuswohady, pengamat bisnis dari Inventure membeberkan akan terjadi pergeseran pola konsumsi pada tahun ini dari “Goods based consumption (barang tahan lama) menjadi experience-based consumption (pengalaman)."

Menurutnya, prilaku komsumsi yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman beralih ke hiburan dan leisure. Jadi masyarakat nanti akan lebih sering mengeluarkan uang untuk kebutuhan experience-based consumption seperti liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.

Karena itu, pria yang akrab disapa Siwo ini memprediksi industri manufaktur akan menurun. Selain itu, mobil dan motor flat cenderung turun karena orang tidak antusias membeli kendaraan pribadi.

Pergeseran pola konsumsi tersebut menurut Siwo, bukan disebabkan penjualan e-commerce yang hanya menyumbang 1,2% dari total GDP, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional, akan tetapi pergeseran tersebut imbas dari pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000 pada 2010.

“Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-$10 per hari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk,” katanya.

Tak hanya itu, beliau menambahkan, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. “Kedai kopi ‘third wave’ kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness bertumbuh bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia,” katanya.

Selain itu, sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat signifikan bagi perekonomian nasional. “Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit, dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu,” jelasnya.

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Rofian Akbar

Pakar Waralaba