15 Tahun Berkarier, Kini Sukses Bangun Bisnis Penyetan

Dirilis

06 Juli 2023

Penulis

Alin Kristiasti Fohan

Pengusaha

Muh Arifin

Jenis Usaha

Usaha Ayam Penyet

15 tahun berkarier di beberapa perusahaan otomotif, Arifin memutuskan untuk beralih ke dunia entrepreneur. Tapi bukan karena kariernya tidak cemerlang, buktinya ia pernah menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan otomotif besar. Keputusan Arifin cenderung karena terinpirasi keluarganya yang hidup sebagai pebisnis. “Saya membayangkan orang tua saya hidupnya enak, punya bisnis tetapi masih punya waktu untuk keluarga dan ibadah,” katanya.

Arifin menjalani 7 tahun terakhir kariernya sambil merintis bisnis. Ia pernah mencoba beberapa bidang bisnis, dan mengalami jatuh bangun menghadapi berbagai kendala.

Bisnis pertama yang ia pilih adalah bisnis warnet alias warung internet, pada 2008. Selain karena teknologi merupakan bidang yang digelutinya sehari-hari, saat itu bisnis warnet memiliki peluang yang besar. Sampai akhirnya ia terinspirasi oleh penjual ayam penyet di kantin dekat kantornya. Ia pun membesut bisnis ayam penyet. Kini Arifin memiliki bisnis ayam penyet dengan merek Master Penyet yang omzetnya tembus milyaran per bulan. Wow

Bagaimana perjalanan bisnis Arifin? Ikuti cerita inspiratifnya, yuk.

 

Mencoba Berbisnis One Stop Service Warnet

Dengan total modal patungan sekitar Rp70 juta, Arifin dan temannya membuka one stop service warnet dan fotokopi. “Teman kuliah saya sudah punya bisnis duluan, bisnis wartel (warung telepon). Saat itu warnet sedang booming, jadi banyak wartel yang di-convert menjadi warnet. Kebetulan ada ruko disewakan dekat rumah, saya dan teman saya patungan untuk sewa ruko tersebut,” jelasnya.

Meski berjalan baik, kerjasama tersebut rupanya tidak bisa berlangsung lama karena teman Arifin harus kembali ke daerah asalnya di Aceh. “Teman saya kembali ke Aceh, modalnya saya payback kemudian bisnisnya saya jalankan sendiri,” sambungnya. 

Memasuki tahun ke-2, Arifin mulai merasa tidak sreg menjalankan bisnis warnet. Ia merasa tidak nyaman karena beberapa kali ada orang tua datang ke warnetnya untuk mencari anak-anak mereka. Maklum, saat itu teknologi belum secanggih sekarang yang bisa bermain game online melalui smartphone dan bisa main di mana saja. Anak-anak yang senang bermain game online biasanya betah berlama-lama di warnet sehingga seringkali mengganggu kegiatan lain yang seharusnya mereka lakukan. Hal ini membuat Arifin merasa ikut bertanggung jawab secara moral, ia khawatir bisnisnya tidak berkah. Akhirnya ia memutuskan untuk beralih ke bisnis lain walaupun bisnis warnetnya sedang maju pesat.

 

Mencicip Peluang Bisnis Toko Susu dan Popok Sekali Pakai

Sebelum memutuskan menutup warnet, Arifin mencari tahu terlebih dahulu bisnis apa yang selanjutnya bisa disasar. Waktu itu, ia tertarik menjadi franchisee salah satu franchise toko susu dan popok sekali pakai. Sayangnya, lokasi yang Arifin tawarkan terlalu dekat dengan franchisee lainnya, hal ini tidak diperkenankan dalam ketentuan franchise karena dinilai akan berisiko mengganggu zonasi pasar masing-masing.

Kalau Anda berpikir setelah ditolak Arifin menyerah dan cari peluang bisnis lain, Anda salah sangka. Pria kelahiran Grobogan Jawa Tengah ini adalah sosok yang pantang menyerah. Dengan kerjasama modal teman kantor, ia berhasil membuka toko susu dan popok sekali pada tahun 2009. Arifin mengelola dua bisnis sekaligus hingga bisnis warnet resmi tutup pada tahun 2010.

Menurut Arifin, tantangan di bisnis penjualan susu dan popok sekali pakai adalah bagaimana agar bisa menjual di bawah harga minimarket modern. Berkat banyaknya supplier yang menawarkan produk lebih murah, harga yang ditawarkan Arifin masih bisa bersaing dengan kompetitor. Namun nyatanya ada tantangan lain yang muncul, yaitu menumpuknya stok yang mengganggu perputaran modal. 

 

Kepincut Bisnis Kuliner Favorit Sejuta Umat: Ayam Penyet

Pada tahun 2012 Arifin kembali terpikir untuk mencari peluang bisnis yang lain. “Saya ingin punya bisnis yang bisa diduplikasi, sementara bisnis susu dan popok sekali pakai makan modal untuk stok,” ujarnya. Kebetulan di tahun tersebut Arifin resign dari tempat kerja yang lama, dan pindah ke salah satu perusahaan di Jakarta Selatan. Saat makan siang di kantin terdekat, Arifin seringkali melihat penjual ayam penyet dikerubungi pembeli sehingga ia tertarik untuk beralih ke bisnis kuliner. 

Arifin mulai cari-cari resep, belajar cara membuat ayam penyet sampai minta diajarkan ke penjual ayam penyet yang laris tersebut. Awalnya ditolak, namun akhirnya Arifin menawarkan sejumlah dana untuk membeli resep dan diterima. Kesepakatannya adalah, pemilik resep akan menyuplai bumbu ayam penyet untuk Arifin.

Total modal yang digelontorkan untuk bisnis baru ini mencapai Rp60 juta, selain digunakan untuk beli resep juga untuk sewa tempat di dekat rumah dan membeli peralatan. “Kalau mulai bisnis jangan jauh dari rumah, minimal searah jalur rumah. Karena bisnis harus dikontrol, agar tetap tahu jika ada masalah,” sarannya. 

Sejak buka tahun 2012, bisnis kuliner besutan Arifin yang bernama Master Penyet berjalan lancar dan mendapat antusiasme pasar. Bahkan sudah buka cabang kedua meski baru berjalan setahun. Namun, tentu saja bukan bisnis namanya kalau tanpa kendala. “Suplai bumbu mulai tersendat karena pemilik resep mengalami kendala pada bisnis yang dikelola, makanya mulai berpikir untuk buat resep sendiri. Tanya-tanya ibu mertua, coba-coba sampai dapat resep yang pas. Pokoknya patokannya rasa tidak boleh jauh dari resep yang saya beli itu,” kenang pria kelahiran tahun 1977 ini. 

Saat mengelola cabang kedua jugalah Arifin baru terpikir untuk memiliki central kitchen di lokasi baru yang khusus menjadi tempat masak dan penyimpanan stok.

Master Penyet bertahan sampai sekarang dengan menggunakan resep buatan Arifin sendiri dengan pencapaian omzet tertingginya mencapai milyaran per bulan. Wow! Setelah mencoba beberapa bidang bisnis, sepertinya bisnis kuliner adalah pilihan yang terbaik untuk Arifin ya.

 

Jatuh Menghadapi Kendala, Bangun Cari Solusi

“Setiap pengusaha pasti punya cerita, untuk menemukan bisnis yang cocok perlu menjalani journeynya. Menghadapi problem internal, karyawan maupun partner. Kalau keinginan jadi wirausahanya tidak bulat, pasti sudah balik badan. Bisnis itu masalah mental, harus ulet, memecahkan masalah,” ujar lulusan Teknik Elektro UI ini. 

Ya, journey yang dilalui Arifin sampai menemukan bisnis yang cocok tidak melulu mudah. Ia pernah mengalami tantangan besar di setiap pilihan bisnis yang ia coba kelola. Misalnya, pernah kemalingan saat berbisnis warnet di tahun 2008 dengan total kerugian sekitar Rp30 juta. Namun karena saat itu masih bekerja juga sebagai karyawan, kerugian bisa ditutup dari bonus yang diterima dari perusahaan sehingga bisa tetap melanjutkan bisnis. 

Saat menjalankan bisnis toko susu, Arifin sempat ditipu karyawannya sendiri. Ia mengakui mengelola bisnis ditengah kesibukannya sebagai karyawan tidak mudah, manajemen waktu sering tidak terkontrol sampai-sampai stock opname baru sempat dilakukan sebulan sekali. Hal ini rupanya jadi peluang bagi karyawannya untuk melakukan kecurangan. Saat ketahuan, ternyata ada penggelapan stok yang kerugiannya sekitar Rp18 juta. “Karyawan sudah mengakui perbuatannya dan membuat pernyataan untuk mengembalikan kerugian dengan mencicil, akhirnya saya ikhlaskan,” katanya.

Selain itu ada 3 tantangan umum bagi pebisnis yang sedang merintis usaha. Arifin tak sungkan berbagi tips nih, catat ya.

 

1.    Turn Over Karyawan Tinggi

Cari karyawan susah, sekalinya dapat, eh, keluar-masuk. Pusing kan.
Menurut Arifin, ini beberapa hal yang bisa diterapkan:

  • Membangun relasi kekeluargaan dengan memanusiakan manusia. 
  • Beri gaji yang pantas, setidaknya untuk kebutuhan dasar seperti makan dan transport
  • Buat perjanjian jelas di awal agar karyawan memahami hak dan kewajibannya
  • Jangan hanya beri janji surga, berikan bonus sesuai kinerja. Misalnya kasih tunjangan absensi jika masuk full tanpa izin dan tunjangan per activity (KPI). 
  • Kalau perlu memberi teguran, lakukan personal. Bukan dihadapan teman-temanya


 

2.    Customer Komplain

Dalam prosesnya, tidak semua customer bisa terpuaskan. Namun, untuk meminimalisir terjadinya komplain, ada beberapa hal yang Arifin lakukan: 

  • Punya SOP untuk semua operasional restoran
  • Training untuk karyawan baru dan refreshment training berkala untuk karyawan lama
  • Perkuat kontrol rutin ke lapangan
  • Menggunakan mystery guest untuk menjadi customer agar tahu pelayanan seperti apa yang diberikan jika tanpa pengawasan 
  • Memberi reward untuk cabang yang berhasil tidak mendapat komplain dalam sebulan


 

3.    Overcost Karena Kebocoran Belanja

Yang belum perlu dibeli, malah dibeli. Harusnya beli bahan baku sekian kilo, malah berlebih diniatkan untuk stok. Eh, malah rugi karena keburu kedaluwarsa sebelum bisa digunakan. 

Kebocoran belanja semacam ini seringkali membuat keuangan bisnis runyam. Kalau belum pakai sistem yang memudahkan pengelolaan stok, Arifin menyebut solusi yang bisa dilakukan adalah catat manual. Agar tahu apa saja yang perlu dibeli, kapan belinya dan berapa banyak yang diperlukan.

 

Pemasaran Online dan Offline

Sebagai anggota aktif komunitas pengusaha di Indonesia, tidak heran Arifin termasuk pengusaha yang melek digital. Makanya dalam hal pemasaran, Arifin banyak melakukan strategi pemasaran digital yang dikelolanya sendiri seperti:

  1. Promosi melalui akun Instagram khusus @masterpenyet
  2. Instagram Ads, 
  3. Kerjasama dengan influencer dan 
  4. Kerjasama dengan akun sosial media kuliner berbayar, 
  5. Membuat konten iklan berbasis keyword
  6. Ikut promo di aplikasi online


Disamping gencar melakukan pemasaran online, strategi pemasaran offline juga tetap dilakukan lho! Misalnya, memasang spanduk, mengadakan promo bulanan, menyebar brosur, memberi voucher diskon dengan nominal tertentu untuk pembelian selanjutnya sampai penawaran hadiah gratis. 

 

Master Penyet Menghadapi Masa Pandemi

Seperti halnya pebisnis lainnya, Arifin juga menghadapi titik terendahnya di masa pandemi. Beberapa cabang tutup bertahap sehingga mau tidak mau karyawan juga dirumahkan. Sedihnya lagi, omzet turun sampai 50%, namun Arifin menganggap ini adalah bagian dari konsekuensi bisnis. Siap untung dan siap rugi. Ia juga yakin ia tidak sendiri, bahkan banyak pebisnis lain yang terpaksa menyerah. Jadi, bagaimanapun Arifin tetap bersyukur bisnisnya tetap bisa bertahan walaupun harus dengan susah payah. Makanya ada beberapa strategi yang nyatanya mampu membawa Master Penyet menembus masa pandemi sampai sekarang dalam proses menuju stabil lagi:


 

1.    Berani bisnis online

Untungnya sebelum pandemi, Arifin sudah duluan merambah pasar melalui media online sejak 2018. Bahkan ia mendapat penghargaan partner dari Go Food dan Grab Food. Sehingga saat penjualan offline terbatas, ia tinggal memanfaatkan channel-channel online yang sudah ada.”Bisnis harus adaptif, mengikuti arah customer,” tegasnya.

 

2.    Inovasi produk

Saat pandemi, Arifin sempat mengeluarkan produk frozen food agar pelanggan setianya tetap bisa menikmati cita rasa ayam penyet khas Master Penyet dan varian lauk pauk lainnya meski tidak bisa datang langsung. Selain itu, solusi ini juga menjawab kebutuhan masyarakat yang waktu itu mobilitasnya dibatasi.

Saat ini hanya 6 cabang Master Penyet yang beroperasi. Meski demikian Arifin yakin bisa membawa bisnisnya kembali meningkat setidaknya seperti sebelum pandemi. “Saat ini sedang rebranding, menguatkan strategi marketing lagi. Terutama dari media sosial,” katanya.

Dengan keunggulan kelengkapan varian menu, pelayanan baik dan fasilitas lengkap seperti colokan listrik sampai musholla, InsyaAllah, Master Penyet bisa bangkit lagi ya, Pak.

 

Merasakan Manfaat Dari Komunitas Wirausaha

“Kata orang, kalau mau wangi harus kumpul dengan pedagang minyak wangi. Saya mau jadi pengusaha, jadi harus kumpul sama komunitas wirausaha. Dapat ilmu, dan terbawa vibe positif,” terang Arifin.

Awal membuka bisnis, Arifin mengalami sulitnya belajar. Jarang pebisnis berpengalaman yang mau sharing buka dapur alias memberitahu bagaimana mereka bisa sukses. Padahal, pebisnis pemula menemui banyak problem dan tentu saja butuh ilmu, teman dan mentor. Ketiga hal inilah yang akhirnya Arifin temukan di komunitas wirausaha. “Semuanya bisa didapat dari komunitas. Belajar banyak hal, dari operasional, permasaran, sampai leadership,” ujarnya.  

Arifin tidak keberatan mengikuti komunitas berbayar karena menurutnya apa yang didapat jauh lebih banyak dan lebih bermanfaat dari uang yang ia keluarkan. Contoh nyatanya adalah dukungan mental. Saat mengalami kerugian ratusan juta kemudian bertemu teman di komunitas dan ternyata tahu ada yang mengalami kendala bisnis lebih parah tapi masih bisa tertawa, seperti menguatkan kalau kendala yang dihadapi belum seberapa.

Coba cek deh, siapa tahu Anda juga ingin merasakan manfaat bergabung dengan komunitas wirausaha yang diikuti oleh Arifin berikut ini: 

  1. Tangan Di Atas (TDA)
  2. Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas)
  3. Asosiasi pengusaha kuliner di Indonesia (apkulindo)
  4. Entrepreneur University (EU)


 

Rencana di Masa Depan

Di tengah kesibukannya sebagai pebisnis dan pengurus komunitas wirausaha, Arifin sedang mempersiapkan brand baru, yaitu Pawon Djowo dan Saung Wiwitan, yang rencananya akan buka dalam waktu dekat di Bekasi. Pawon Djowo mengusung produk kuliner tradisional sedangkan Saung Wiwitan mengkhususkan kepada kuliner khas Sunda. Keduanya terinspirasi dari brand kopi klotok yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Harapannya, kelak bisa menjawab kerinduan masyarakat kota yang rindu kuliner tradisional. 

Dari Arifin, ada banyak pelajaran dan tips yang bisa ditiru dan disesuaikan dengan kondisi bisnis Anda. Kalau masih ada yang perlu ditanyakan, silakan konsultasikan dengan ahlinya di fitur Tanya Ahli Daya.id. 

Yuk daftar dan kunjungi Daya.id untuk baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya!

Penilaian :

4.8

28 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS