Dirilis

26 Maret 2018

Jika dibandingkan perusahaan besar, start-up atau usaha rintisan tentu kalah “matang”, dan kondisi inilah yang bisa menyebabkan start-up rentan terhadap masalah keuangan.

Padahal kondisi keuangan dapat menjadi parameter penting kestabilan suatu usaha. Apabila kondisi keuangan terlihat baik, di mana keuntungan terus meningkat dan manajemen arus kas berjalan lancar, kemungkinan besar usaha tersebut baik-baik saja. Begitu juga sebaliknya.

Jadi jika Anda berencana mendirikan atau sedang merintis sebuah start-up, penting untuk mengetahui berbagai jenis masalah keuangan. Lalu sebenarnya masalah keuangan seperti apa yang sering start-up hadapi?

Tidak Memiliki Modal yang Cukup
Seluruh ide usaha sama-sama membutuhkan uang. Uang inilah yang menjadi modal awal bagi start-up agar dapat beroperasi paling tidak selama beberapa bulan pertama. Perlu diingat bahwa untuk menghasilkan keuntungan, terkadang usaha baru membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Di sisi lain, sudah menjadi pemandangan umum bahwa kebanyakan start-up didirikan anak muda. Masalahnya wirausahawan muda masih berada dalam masa awal produktif mereka (earning days). Jumlah tabungan masih belum terlalu banyak, belum lagi jika harus membayar student loan. Bagaimana mereka bisa memiliki modal yang cukup untuk membesarkan start-up?

Modal tak hanya dibutuhkan selama masa awal start-up berdiri. Anda akan terus mengeluarkan biaya agar bisa berinvestasi membesarkan usaha, misalnya membuka cabang baru atau membeli mesin. Jadi sangat disarankan jika Anda mencari cara untuk memotong pengeluaran hingga 20%, lalu mengalokasikannya untuk biaya modal usaha.

Riwayat kredit yang Buruk
Demi bisa mendapatkan dana yang cukup untuk mengembangkan usaha, beberapa start-up biasanya memutuskan untuk mengajukan pinjaman ke bank. Anda juga bisa mengambil langkah yang sama. Namun perlu diingat bahwa bank akan memeriksa riwayat keuangan dan pemakaian kartu kredit, untuk menilai apakah Anda layak menerima pinjaman dari mereka.

Nah, hal tersebutlah yang biasanya menjadi batu sandungan bagi start-up dalam mendapatkan pinjaman dana dari bank. Penyebabnya bisa bermacam-macam, entah karena memang tidak memiliki kartu kredit sebelumnya atau yang paling sering terjadi karena riwayat kredit mereka tidak lulus pemeriksaan. Selain itu jika Anda baru memiliki kartu kredit, kemungkinan besar Anda belum memiliki riwayat pemakaian yang cukup untuk menunjukkan riwayat kredit yang baik. Alhasil pengajuan dana pun ditolak oleh bank.

Penjualan Baik, Tapi Profit Rendah
Ini dia salah satu masalah yang sering dihadapi startup dan menjadi penyebab setback usaha mereka. Dari sisi penjualan, Anda tidak melihat ada yang salah. Penjualan produk berjalan lancar dan stabil. Anehnya ketika memeriksa kondisi keuangan, tingkat profit start-up Anda cenderung rendah. Lalu ke mana perginya pemasukan dari hasil penjualan tersebut?

Penyebab masalah keuangan start-up yang satu ini kebanyakan berasal dari pengeluaran berlebihan (over-spending) atau biaya-biaya yang tak terlihat (hidden cost).

Untuk mengatasi masalah ini, susunlah sebuah sistem dan kebijakan pembelian yang tepat untuk memastikan bahwa Anda melakukan pembelian yang tepat dengan harga sekompetitif mungkin dari vendor.  Selain itu tunjuk orang yang Anda percaya untuk mengawasi kebijakan dan seluruh prosesnya, mulai dari pemesanan barang, penerimaan, hingga pembuatan laporan. Jangan ragu menghubungi vendor untuk melakukan modifikasi kontrak dan negosiasi harga.

Klien Telat Kirim Pembayaran
Sebagai pengusaha start-up, Anda memang tidak bisa mengontrol perilaku para klien, termasuk dalam hal pembayaran. Bahkan statistik menunjukkan bahwa sebanyak 80% usaha kecil masih sering menghadapi pembayaran telat dari para klien dan hal ini terjadi cukup sering. Namun bukan berarti Anda bisa diam begitu saja jika klien melakukan pembayaran secara telat.

Sejak awal bersikaplah tegas kepada klien dengan menerapkan aturan dan kebijakan yang cukup ketat. Buatlah jadwal pembayaran yang disepakati bersama klien secara tertulis. Anda juga bisa menjelaskan kepada klien bahwa Anda mungkin tidak akan melanjutkan kerja sama apabila pembayaran yang disepakati belum dibayarkan.

Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk membuat klien membayar tepat waktu adalah dengan menawarkan diskon. Coba tawarkan diskon bagi klien yang melakukan pembayaran lebih awal sebelum jatuh tempo. Namun ingat, jangan memberikan diskon yang terlalu besar agar Anda tidak rugi. Biasanya besaran diskon ini sekitar 2-3% saja.

Pembukuan yang Tidak Terorganisir
Anda mungkin berpikir bahwa pembukuan merupakan pekerjaan yang cukup membosankan karena harus berkutat dengan banyak angka. Banyak pelaku start-up yang terlalu fokus menyempurnakan produk hingga melupakan hal satu ini. Padahal angka-angka yang ada dalam pembukuan dapat menjadi data penting untuk menentukan masa depan usaha startup Anda.

Melalui pembukuan Anda dapat menganalisis pemasukan dan pengeluaran yang dikategorikan per minggu, bulan, hingga tahun. Dengan begini Anda dapat melakukan perbandingan. Jika misalnya dari perbandingan tersebut ditemukan bahwa pengeluaran bulan ini lebih besar dari bulan lalu, Anda bisa melakukan analisis lanjutan, mencari penyebabnya, dan segera mengambil tindakan.

Tak hanya itu, pembukuan yang terorganisir juga dapat meningkatkan peluang untuk mendapatkan bantuan dana dari investor. Calon investor pasti ingin memastikan bahwa start-up yang hendak mereka beri dana memiliki kondisi keuangan baik. Pasalnya kondisi keuangan yang baik menunjukkan bahwa start-up Anda punya kondisi yang baik pula. Nah, hal ini bisa dibuktikan melalui pembukuan yang terorganisir.


Pengeluaran Biaya Tak Terduga
Masalah keuangan start-up juga bisa muncul dari pengeluaran biaya yang tak terduga. Mengingat sifatnya yang tak terduga, hal ini berbahaya karena Anda bisa saja tak menyadarinya. Salah satunya adalah keterlambatan pembayaran dari klien, seperti yang telah dijelaskan di atas. Saat mereka telat membayar, kemungkinan besar Anda harus menggunakan uang dari pos pengeluaran lain atau bahkan dari kantong pribadi agar tetap dapat melanjutkan produksi. Hal ini bisa memengaruhi manajemen arus kas.

Biaya tak terduga juga dapat terjadi ketika ada karyawan yang resign dan Anda harus menggantinya dengan yang baru. Proses pergantian ini ternyata bisa memakan biaya hingga 1/5 gaji seorang karyawan. Sumber biaya tak terduga lain yang perlu diwaspadai adalah penyusutan atau shrinkage. Hal ini terjadi ketika jumlah inventaris berkurang akibat adanya pencurian diam-diam dari karyawan, kesalahan pada vendor, atau kerusakan produk saat proses transit.

Masalah keuangan start-up memang sesuatu yang wajar terjadi. Namun dengan mengetahui masalah keuangan yang sering dihadapi start-up tersebut, Anda bisa mengambil langkah pencegahan agar tidak mengalami hal yang sama. Anda dan tim pun dapat mencurahkan lebih banyak fokus untuk hal-hal penting lainnya.

 

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Berikan Komentar

Risky Dwi Rahayu

03 April 2018

menarik banget artikelnya. :)

Balas

. 0

Ramang Basuki

26 Maret 2018

.terpenting yakin...

Balas

. 1

Koekoeh Gesang Setyonugroho

setuju pak :)

0

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Rhein Mahatma

Digital Marketing Expert