Dirilis

04 Januari 2023

Penulis

BTPN Mitra Bisnis

Perkembangan teknologi saat ini membuat hampir semua orang dari berbagai kalangan menggunakan smartphone. Tentu saja, untuk menyambungkan dengan sinyal internet, smartphone harus menggunakan paket data yang diisi dengan pulsa. Hal ini membuat permintaan terhadap pulsa terus meningkat. 

 

Jumlah Konsumsi Kuota Internet Nasional per Bulan 

Perusahaan riset jaringan mobile, OpenSignal, merilis laporan terbaru tentang penggunaan internet seluler oleh masyarakat global termasuk Indonesia, untuk keperluan bekerja, belajar, dan berkomunikasi di masa pandemi Covid-19. 

Baca Juga : Apa itu Keuangan Digital?

Melalui riset yang bertanjuk “Quantifying the Impact of 5G and Covid-19 on Mobile Data Consumption” tersebut, diketahui bahwa orang Indonesia menghabiskan rata-rata kuota internet selular sebesar 14,4 GB/bulan selama Q1 2021. Berikut ini datanya:

Berdasarkan data tersebut, jumlah penggunaan data selular pada Q1 2021 tersebut meningkat cukup signifikan apabila dibandingkan dengan periode yang sama di dua tahun sebelumnya yaitu 11,8 GB/bulan pada Q1 2020 dan 8,5 GB/bulan pada Q1 2019. 

Menurut OpenSignal, peningkatan ini merupakan cerminan dari ketergantungan masyarakat Indonesia dengan koneksi internet, terlebih di masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan berbagai kegiatan yang dilakukan dari jarak jauh. 

Biasanya orang Indonesia menggunakan internet untuk melakukan aktivitas seperti berkomunikasi, bersantai, bermain social media, melakukan browsing, melakukan jual-beli barang dan lain sebagainya. Berikut ini merupakan persentase penggunaan internet berdasarkan aktivitas:

Berdasarkan laporan Bank Dunia yang berjudul Harnessing Digital Technology for Inclusion in Indonesia 2021, komunikasi menjadi aktivitas yang paling sering dilakukan masyarakat Indonesia ketika menghabiskan waktu di internet. Persentase aktivitas yang mencakup berkirim pesan dan surat elektronik (surel) tersebut mencapai 36%. 

Aktivitas lain yang sering dilakukan adalah membuka media sosial dan bersantai untuk menyaksikan konten audio, video, atau bermain gim. Persentase kedua aktivitas tersebut masing-masing sebesar 21%. 

Sebanyak 11% masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya untuk menjelajah (browsing) internet. Ada 3% masyarakat Indonesia yang menggunakan internet untuk transaksi jual-beli. Sedangkan, 8% masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk kegiatan lainnya. 
 

Gambaran Distribusi Pulsa akibat Transformasi Digital & Pandemi Covid-19 

Sebetulnya sebelum adanya pandemi covid-19, provider pulsa sudah melihat bahwa adanya peluang besar dalam pengembangan model bisnisnya, yang nantinya akan menguntungkan bagi para pelanggannya. Dengan bekerja sama dengan nama-nama besar di industri e-commerce nasional dapat menghadirkan kemudahan bagi pelanggan untuk memperoleh layanan dengan lebih cepat.

Terlihat bahwa salah satu operator telekomunikasi yang memanfaatkan secara resmi strategi ini adalah Telkomsel. Pada tahun 2016, telkomsel telah menggandeng 14 perusahaan e-commerce di Indonesia untuk memperluas jaringan distribusinya. 

Tercatat ada Tokopedia, Kaskus, Alfacart, Blanja, Lazada, Go-Jek, MatahariMall, Traveloka, Bhinneka, Blibli, Jd.id, Grab, Bukalapak, dan Dinomarket yang menjadi channel pembelian baru untuk layanan Telkomsel. 

Nyatanya, akibat dari pandemi Covid-19 yang menghambat mobilitas masyarakat serta mendorong tranformasi digital, membuat strategi pengembangan model bisnis ini pun berhasil membuahkan hasil. 

Dengan kerjasama antara provider pulsa dengan para e-commerce tersebut, sangat mempermudah masyarakat dalam membeli pulsa di saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pandemi Covid-19. Dimana dengan keuntungan yang diberikan oleh e-commerce juga merupakan salah satu pendorong masyarakat lebih memilih untuk membeli pulsa secara online. Berikut ini merupakan keuntungan yang didapatkan apabila membeli pulsa secara online

  • Waktu pembelian yang fleksibel 
  • Hemat biaya dan waktu 
  • Bisa langsung melihat harga-harga yang ditawarkan dengan mengakses laman atau aplikasi. 
  • Harganya bisa jauh lebih murah 
  • Bisa mendapatkan cashback dari platform atau e-commerce yang digunakan. 


Keuntungan ini dapat mengancam eksistensi toko atau agen pulsa, karena hal tersebut membuat masyarakat menjadi beralih, yang sebelumnya membeli pulsa melalui toko atau agen pulsa, sekarang melalui online

Dapat diartikan bahwa akibat dari dampak pandemi Covid-19 yang menghambat mobilitas masyarakat dan sangat mendorong tranformasi digital tersebut, membuat pendistribusian pulsa pun ikut berubah, sejalan dengan perubahan perilaku belanja masyarakat dalam membeli pulsa. Berikut merupakan gambaran distribusi pulsa akibat dari tranformasi digital dan pandemi Covid-19:

Dalam pendistribusian pulsa, e-commerce termasuk kedalam dealer. Berdasarkan bagan tersebut terlihat bahwa ruang lingkup pendistribusian pulsa akibat tranformasi digital dan pandemi Covid-19 semakin mengecil. Dimana sebelumnya terdapat provider, dealer, sub dealer, toko agen pulsa, dan konsumen tetapi sekarang hanya ada provider, dealer, dan konsumen. 

 

Prospek Bisnis Sub Dealer Pulsa 

Akibat dari pandemi Covid-19 yang menghambat mobilitas masyarakat, mengharuskan masyarakat Indonesia melakukan berbagai kegiatan yang dilakukan dari jarak jauh. Hal tersebut membuat masyarakat Indonesia menjadi ketergantungan dengan koneksi internet. Dengan ketergantungan ini, memberikan dampak positif terhadap bisnis toko atau agen pulsa karena permintaan akan pulsa dan pake data terus meningkat. 

Selain memberikan dampak positif terhadap bisnis toko atau agen pulsa, hal tersebut juga memberikan dampak positif untuk bisnis dealer dan sub dealer pulsa. 

Tetapi karena adanya perubahan perilaku belanja masyarakat akibat dari pandemi Covid-19, membuat belanja online menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini, lantaran pandemi yang membuat hampir semua pemenuhan kebutuhan pokok dan berbagai kegiatan lainnya dialihkan melalui layanan digital. 

Hal tersebut membuat masyarakat pun sekarang lebih suka berbelanja secara online daripada belanja langsung ke lokasi. Hal ini terlihat dari laporan “Navigating Indonesia’s E-Commerce: Omnichannel as the Future of Retail”. Berdasarkan dari laporan tersebut, tercatat bahwa sebesar 74,5% konsumen sekarang lebih suka berbelanja online dibandingkan berbelanja offline. 

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pandemi Covid-19 telah mengakselerasi pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia dan meningkatkan konsumsi masyarakat di platform digital serta meningkatkan ketergantungan masyarakat terhadap koneksi internet. 

Walaupun adanya perubahan terhadap perilaku belanja masyarakat, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi eksistensi dealer pulsa. Hal tersebut dikarenakan, bisnis dealer pulsa pun ikut menyesuaikan diri dalam transformasi digital tersebut. Kalau dilihat sekarang, sudah banyak dealer yang mendistribusikan pulsa secara online. Contohnya seperti e-commerce dan dealer-dealer pulsa online lainnya. Sehingga dapat diartikan bahwa bisnis dealer pulsa online masih memiliki prospek dan peran penting terhadap pendistribusian pulsa kepada para konsumen.

Tetapi hal tersebut tidak berlaku apabila bisnis dealer yang hanya masih melakukan distribusi pulsa secara langsung ke toko atau agen pulsa. Dimana dengan kemudahan dan keuntungan yang didapat masyarakat dalam membeli pulsa secara online, memberikan dampak jelas terhadap nasib para pelaku usaha toko atau agen pulsa konvesional yang mengandalankan penghasilan dari transaksi pengisian pulsa atau kuota internet. 

Keberadaan e-commerce dari waktu ke waktu terus membuat grafik omzet toko atau agen pulsa konvesional menurun. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, e-commerce sudah menggerus 40-50% omzet pemilik toko atau agen pulsa konvesional. 

Dapat diartikan bahwa dengan penurunan permintaan pasar dan omzet tersebut, membuat ketersediaan pulsa di toko atau agen pulsa pun terus menetap. Sehingga membuat toko atau agen pulsa tidak dapat menambahkan stok pulsa dari para dealer dan sub dealer. Akibat dari hal tersebut, selain mengancam eksistensi toko atau agen pulsa, hal tersebut juga sangat mempengaruhi dan mengancam eksistensi terhadap peran dealer dan sub dealer dalam pendistribusian pulsa secara langsung. 

Tetapi peran dealer, sub dealer, dan toko atau agen pulsa masih memiliki prospek dan peran peran penting diwilayah-wilayah tertentu seperti pendesaan. Hal ini dikarenakan daya tembus e-commerce ke pelosok perdesaan masih rendah karena tingkat kepercayaan masyarakat yang masih belum terbangun.

Jika Anda pertanyaan terkait topik ini, silakan berkonsultasi secara gratis di Tanya Ahli. Daftarkan dulu diri Anda untuk akses penuh ke seluruh fitur Daya.id.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS